Ribut KTP

Kartu Tanda Penduduk, sering disingkat KTP. Sebuah identitas yang wajib dimiliki setiap warga negara usia 17 tahun ke atas. Dan lalu kemudian menjadi topik pembicaraan sejak sekitar setahun yang lalu, ketika salah satu pejabat yang akan dicalonkan kembali menjadi petinggi salah satu daerah di negara ini mengajak para pendukungnya untuk mengumpulkan KTP. Lalu ada lagi berita tentang e-KTP. Ya. KTP elektronik, yang katanya terintegrasi secara Nasional untuk mencegah seseorang memiliki dua identitas atau lebih.

Lalu Mendagri (Meteri Dalam Negeri) menyampaikan peringatan untuk semua warga negara memiliki e-KTP, disertai dengan beberapa ancaman informasi tentang resiko yang dihadapi ketika seseorang tidak memiliki e-KTP. Lalu ada lagi broadcast message di grup WhatsApp mengenai e-KTP, yang (sekali lagi) katanya bukanlah semenarik yang kita kira. Tidak ada online data, yang secara real time bisa terhubung ke berbagai akun kita. Rumornya, yang membedakan KTP biasa dengan e-KTP adalah soal pengarsipan data kita di kantor pemerintahan. Dulu berkas arsip kita ditulis dan disimpan dalam bentuk lembaran-lembaran kertas, tertata rapi dalam map, dan disimpan di lemari kantor. (Ndak usah dibayangkan gedenya kantor yang nyimpan 220 juta data penduduk). Kali ini data kita akan diketik dalam sistem komputer, istilahnya data base. Sehingga untuk proses penyimpanan dan atau jika suatu saat dibutuhkan untuk ditinjau kembali, bisa dilakukan dengan mudah dan cepat.

Ternyata e-KTP memberiku sedikit masalah. Sedikit, tapi cukup mengganggu. Aku tidak punya e-KTP, karena kupikir dulu tidak terlalu penting untuk membuat e-KTP. Sebenarnya aku sudah pernah melakukan rekam e-KTP seperti yang dipersyaratkan, bahkan aku dan istri rela antri berjam-jam (setelah dapat ijin cuti satu hari) untuk melakukan rekam data e-KTP. Dan sampai dengan 2 tahun setelahnya, tidak pernah ada pemberitahuan mengenai hasil e-KTP kami. Sampai akhirnya kami pindah kota, dan memutuskan untuk mengurus ulang KTP kami.

Lalu ada panggilan telepon di siang hari, dari seorang salesman salah satu perusahaan mobil. Yang menyampaikan adanya produk terbaru dan ingin sekali menawarkannya kepadaku. Dengan nada yang cukup meyakinkan, beliau menyampaikan bahwa dia mendapatkan data lengkap tentangku dari salah satu rekan yang membantu calon Gubernur di Ibukota. Padahal aku tinggal di pinggiran Kabupaten di Jawa Timur.

Aneh? Ternyata tidak, karena yang menelpon hanyalah salah seorang karibku yang sedang ingin menggodaku.

Leave a comment

Filed under catatan tentang pribadi

Dongeng Ayah

Sebelum mulai pembahasan tentang “Dongeng Ayah”, perlu kalian semua berkenalan dengan sang inspirator tulisan ini. Atau bisa juga disebut penyebab, penggagas, motivasi utama kenapa tulisan ini perlu dibuat. Dia adalah Husni, anak laki-laki yang tahun ini berusia 5 tahun. Perawakan kurus, dan ganteng (kemungkinan karena gen sang ayah) tapi tidak terlalu tinggi (jika dibanding statistik tinggi badan kakaknya, Satriyo). Dialah yang ‘mengharuskan’ adanya ritual dongeng hampir setiap malam. Setidaknya, ayah harus menyiapkan satu jalan cerita dongeng. Kalau sedang bersemangat, Husni bisa minta dua cerita sekaligus. Terutama kalau Satriyo (kakaknya) belum tidur dan ingin ikut mendengarkan. Judulnya? Untuk judul terserah Husni. Bisa satu malam dia minta dongeng tentang “Si Kancil” bisa juga tiba-tiba dia punya ide tentang “Pohon yang Sombong”. Ayah harus berimprovisasi untuk menciptakan dongeng yang tidak sekedar cerita saja, tapi setidaknya ada muatan nasehat di dalamnya.

Seperti malam itu, tiba-tiba Husni menyodorkan judul “Si Kancil”. Dan ketika ayah bersiap untuk memulai cerita, dia menambahkan syarat. “Tapi bukan Kancil yang mencuri.” katanya. Hmmm, harus putar otak untuk mengingat macam dongeng tentang kancil. Alhamdulillah dapat cerita tentang kancil yang cerdik. Maka cerita pun bisa dimulai.

“Baiklah, malam ini dongengnya tentang Kancil yang Cerdik”, kata ayah.

“Asyik!!”, Satriyo dan Husni berseru hampir bersamaan.

“Dimulainya harus dengan kata-kata, Pada suatu hari…..” Husni mengajukan syarat lanjutan.

“Yalah .. yalah… Pada suatu hari,…..” ayah memulai cerita.

Dan cerita pun bergulir, tentang kancil yang sedang dikejar-kejar oleh Harimau yang ingin memangsanya. Karena kesigapannya, kancil berhasil melarikan diri. Dia berlari melewati semak-semak, menuju rimbun pepohonan hutan sampai di tepian sungai. Kancil terdiam memikirkan cara untuk menyeberangi sungai di tengah hutan yang berarus deras, tiba-tiba ada gerakan cepat dari dalam air menuju ke daratan tempat kancil berdiri. Ternyata seekor buaya mencoba untuk memakan kaki mungil si kancil.

Dalam keadaan yang seperti itu, makin paniklah kancil. Dia memutar otak, mencari strategi untuk bisa menghindari sergapan buaya sekaligus melarikan diri sejauh-jauhnya agar tak terkejar lagi oleh harimau yang lapar. Tapi kancil memang terkenal cerdik, dia punya ide cemerlang untuk menyelamatkan diri. Dengan berusaha menenangkan diri, dia berdiri tegap di pinggir sungai pada jarak aman dari tangkapan buaya. Dengan dada dibusungkan dan kepala sedikit mendongak, kancil mulai bicara dengan lantang.

“Hmm hmm (mendehem), dengar semua wahai penduduk hutan!”, katanya lantang. Kancil tahu bahwa di sekitarnya hanya ada buaya dan dia. Tapi dia berpura-pura sedang menyampaikan pengumuman untuk semua penduduk hutan. Buaya yang melihat gelagat kancil merasa kaget. Dia melongo mendengarkan lanjutan pengumuman dari si kancil.

“Saya perwakilan dari kerajaan Rimba Raya ingin menyampaikan pengumuman dari Baginda Raja Nabi Sulaeman yang Terhormat.” lanjut kancil.

“Hah??!! Baginda Sulaeman?” tanya buaya yang moncongnya sudah berada beberapa meter dari kaki kancil.

“Hush! Dasar buaya! Kalau kau ingin menyebut nama beliau, gunakan gelar yang lengkap. Baginda Raja Nabi Sulaeman yang Terhormat” jawab kancil semakin lantang untuk meyakinkan buaya.

“Oh, maaf.. maaf.. maaf.” jawab buaya. Tak berlangsung lama, beberapa buaya terlihat berenang mendekat. Berusaha untuk ikut mendengar. Kancil yang melihat banyaknya buaya semakin khawatir akan keselamatannya, tapi dia bertekad untuk melanjutkan sandiwaranya.

“Dengar pengumuman ini, wahai buaya semua penghuni sungai tengah hutan! Aku diutus Baginda Raja Nabi Sulaeman yang Terhormat, untuk menyampaikan pengumuman penting.”

“Kalian semua diundang untuk menghadiri jamuan makan yang diselenggarakan oleh Baginda Raja Nabi Sulaeman. Dan untuk itu, aku diminta oleh beliau untuk menghitung semua buaya yang ada di sungai ini. Semuanya, tidak boleh ada yang tertinggal.” lanjut kancil semakin meyakinkan.

Buaya-buaya yang mendengar berita itu bereaksi dengan macam-macam. Ada yang bersorak, ada yang meragukan namun ada yang tak peduli. Kancil menunjukkan muka yang tak sabar, kemudian melanjutkan pidatonya.

“Kalau kalian tidak mau, akan kusampaikan kepada Baginda Raja Nabi Sulaeman.”

Mendengar ancaman kancil, buaya-buaya itu kemudian mulai berunding. Akhirnya mereka menyepakati untuk menghitung jumlah mereka sendiri.

“Aku akan memimpin hitungan.” kata salah satu buaya. Kancil diam saja, sebab dia yakin bahwa buaya tak bisa berhitung. Dan kemudian mulai terdengar suara buaya saling bersahutan menyebutkan angka.

“Satu, .. dua, .. dua,..” salah satu buaya mengulang hitungan. Kancil segera menghentikannya.

“Ah, ternyata kalian tak pandai berhitung. Biar aku saja yang menghitung. Satu .. dua .. tiga .. empat.” kancil menggerakkan kakinya seolah menghitung satu per satu.

“Sulit sekali menghitung kalian semua jika kalian bergerombol.” kancil protes.

“Cobalah kalian berbaris rapi, biar aku hitung dari awal. Satu buaya berjajar di samping buaya yang lain. Dari sini sampai ke ujung sebelah sana.” perintah kancil dengan tegas. Dan semua buaya pun menurut. Mereka berjajar rapi berharap agar kancil menghitung dengan benar.

Ketika semua buaya sudah berjajar, dan kancil melihat bahwa mereka bisa menjadi jembatan baginya untuk menyeberangi sungai. Maka mulailah kancil melangkahkan kaki, sambil mengingatkan kepada buaya agar kepala mereka tetap tertunduk selama dihitung. Kancil tak ingin salah satu kakinya jatuh ke mulut buaya sehingga hitungannya menjadi kacau. Dan dengan lugunya, semua buaya menurut.

Sedang seru-serunya bercerita, tiba-tiba sang maestro (baca: Husni) berkomentar. “Aku tahu, aku tahu ayah!” teriaknya.

“Tahu apa?”, jawab ayah.

“Aku tahu cara kancil menghitung.”

“Satu, dua, tiga, lekuk, kepala buaya aku ketuk. Empat, lima, enam, lekuk, jantan betina aku ketuk.” sambil terkekeh menirukan gaya bicara salah satu tokoh kartun yang ada di televisi. Ternyata selama ini mereka sudah pernah mendengar dongeng ini. Tapi untungnya mereka tidak protes ketika mereka tahu bahwa ayah mereka menceritakan cerita yang sudah mereka dengar. Belakangan kutahu dari pengakuan mereka, bahwa alasan mereka tetap mendengarkan karena cara ayah bercerita sangat menarik.

Sepertinya bukan semata karena caranya, tapi karena ada hubungan ayah-anak yang terjalin begitu akrab dan penuh cinta dalam kasus dongeng tersebut. Sehingga mereka sabar mendengar cerita menurut versi sang ayah, dan hanya menginterupsi pada saat yang mereka anggap menarik.

Kedekatan mulai dongeng bukan satu-satunya cara untuk membangun hubungan mesra dengan anak. Tapi bisa jadi alternatif yang menyenangkan. Selamat mencoba!

NB: Kapan-kapan kuceritakan seberapa ‘addictive’-nya mereka pada film kartun dan bisa digunakan secara positif (setidaknya menurutku).

Selamat tidur!

1 Comment

Filed under catatan tentang pribadi

Catatan kopi – Pahit itulah nikmatnya

Hari ini ada dorongan besar untuk menulis, tapi dari pagi (sejak selesai Subuh) sampai tulisan ini dibuat (menjelang Dhuhur) tidak satupun ide untuk menulis. Sebenarnya tidak benar-benar ‘nothing to write about’, sempat terlintas untuk menulis sebuah ucapan selamat kepada seorang kawan yang hendak menikah. Masalahnya kawan tersebut mengisyaratkan baru akan menikah tahun 2016. Lha moso’ ya nulis ucapan selamat tahun 2016 dimulai hari ini? Absurd. Lalu saya browsing-browsing di sekitaran media sosial radius 2KM lah. Meskipun pernah ada yang menyarankan, jika sedang dalam situasi yang sulit menulis atau istilahnya writer blocks, media sosial justru akan menghambat. Sebab ada kemungkinan kita terhanyut untuk mengikuti status dan tulisan orang-orang, dan kita malah kehilangan momentum untuk menulis.

Tapi hari ini berbeda, (menurut saya) karena status salah seorang kawan dengan akun @syaiful87 di twitter justru menginspirasi saya untuk menulis. Di sana ditulis,

“Nikmat kopi berada di pahitnya. Begitu pula kehidupan. Nikmat juga pahitnya, karena Dia tahu apa yang terbaik. Sudah kah kita bersyukur hari ini?”

Bukan hanya membahas redaksional dan makna di balik kalimat itu. Tapi saya menemukan satu pengetahuan darinya. Yang pertama, bahwa bagaimana cara pandang kita terhadap suatu masalah bisa menjadikan motivasi tersendiri (bagi diri kita atau orang lain). Dalam tulisan di atas disebut, “Nikmat kopi berada di pahitnya,…” subyektif sekali pernyataan tersebut dan mudah sekali terbantahkan. Tapi permasalahannya tidak berhenti di “debatable” atau tidak. Yang menarik justru sikap sang penulis status yang memberi warna pada kenikmatan kopi. Bahwa dia (dan mungkin sebagian orang lain) juga menikmati kopi karena rasa pahit yang ditawarkan. Justru dengan pahitnya, kopi terasa makin nikmat. Kurang lebih seperti itu.

Berangkat dari pernyataan tersebut, penulis menambahkan silogisme pada pernyataan yang kedua. “Begitu juga kehidupan. Nikmat juga pahitnya.” Bagi saya ini adalah momentum pencapaian individu bahwa setiap masalah yang dihadapi di dunia belum tentu berakhir sebagai masalah. Bisa jadi ia adalah pertanda atau bahkan penanda untuk mempersiapkan sesuatu yang lebih baik. “Pahitnya kehidupan” dinilai sebagai salah satu kenikmatan. Dan bagi saya yang awam ini, kenikmatan adalah suatu sikap penerimaan. Dia bukan wujud benda yang mutlak padat dan obyektif berlaku untuk setiap orang. Dia semacam senyawa yang “cair” atau fluid yang bisa berasal dari padatan-padatan kemudian berubah wujud, bertransformasi, mencair dan mengisi setiap wadah yang kita miliki. Hati maupun pikiran kita.

Kenikmatan, sebagaimana saya selalu ingin menafsirkan salah satu ayat dalam kitab suci yang menyebut, “Barangsiapa yang mensyukuri nikmat Allah, akan ditambahkan nikmatnya.” Dia bukan berwujud sebagaimana materi, seperti pada uang, emas, permata, mobil, rumah, tanah, istri dan lain sebagainya. Dia bukan nasi yang kita makan saat makan siang, tapi adalah proses dari sejak bagaimana nasi itu dibuat sampai dia disantap dan kemudian melahirkan perasaan kenyang dan terpenuhi kebutuhan seorang yang menyantap makan siang itu. Itulah kompleksitas nikmat menurut saya.

Dan kompleksitas itu juga yang harus terus kita lahirkan sebagai cara pandang kita untuk bersyukur. Mensyukuri nikmat, bukan semata mensyukuri yang enak. Bukan pula mensyukuri yang berlimpah. Tapi bagaimana pemenuhan terhadap kebutuhan itulah yang menjadikannya nikmat. Sehingga kemudian dari nikmat yang dirasakan itu disertai dengan sikap syukur kepada sang Pemilik Nikmat Sejati.

Kembali soal status yang ditulis kawan @syaiful87, bahwa kehidupan ini juga menyediakan nikmat berupa rasa pahit dalam perjalanannya. Sikap untuk bersyukur diwajibkan untuk ikut serta agar nikmat yang dihadirkan oleh Sang Pemilik Nikmat ini makin berlimpah. Dan bagi saya, tak ada lagi ukuran pahit, manis, asam, getir dari penilaian duniawi ketika nikmat adalah satu-satunya parameter yang ingin dicapai oleh seorang individu.

Dan darinya, saya mulai belajar kembali. Bagaimana melihat setiap hal sebagai nikmat, dan menjadikannya alasan untuk senantiasa bersyukur.

Salam

Leave a comment

Filed under catatan tentang pribadi

Merindukan Lailatul Qodar

Memperbincangkan Lailatul Qodar, selalu akan menemukan khazanah menarik secara keilmuan maupun secara reliji. Setiap umat muslim yang teguh imannya pasti akan mendambakan datangnya malam yang disebut-sebut sebagai malam seribu bulan. Karena pada malam itu, Allah menurunkan rohmat, hidayah dan berbagai macam keistimewaan sehingga kualitas ibadah pada malam itu sejajar dengan kualitas ibadah seorang muslim dan mukmin yang tiada henti selama kurang lebih 83 tahun (seribu bulan). Waktu kecil, saya sering membayangkan malam Lailatul Qodar sebagai ‘jackpot’ bagi setiap muslim. Bayangkan saja, jika ibadah kita dalam semalam bernilai dengan ibadah yang berkualitas selama 83 tahun. Tidakkah itu suatu hal yang luar biasa, kemenangan yang gilang gemilang bagi seorang muslim dan mukmin,

Tapi, Allah sang Maha Ghaib telah menjadikan malam itu seindah mungkin dan dilingkupi dengan semua keghaiban yang ada. Tiada satu pun orang (kecuali Rosululloh SAW) yang mampu secara pasti mengidentifikasi dan menunjukkan tepatnya waktu malam Lailatul Qodar tersebut. Sepanjang umur saya, Lailatul Qodar adalah salah satu dari sekian mimpi terindah. (Mungkin) Tak lebih dari sepertiga usia saya khususkan untuk mencari dan mendapatkannya. Wallahualam tentang apakah saya pernah, hampir atau bahkan masih jauh dari mendapatkannya. Yang jelas, Lailatul Qodar sampai detik ini adalah sesuatu yang teramat saya rindukan.

Bagaimana usahamu dalam mencari dan mendapatkan keistimewaan malam Lailatul Qodar?

Bukankah itu semua selalu menjadi pertanyaan dalam benak kita? Amalan apa yang bisa mendekatkan peluang kita untuk mendapatkan keistimewaan itu? Rosululloh SAW telah menyampaikan, mengajarkan bahkan mencontohkannya dalam keseharian beliau ketika mendekati akhir Ramadhan. Beliau i’tikaf memperbanyak ibadah, qiyamul lail atau menegakkan/meneguhkan malam dengan berbagai ibadah, bahkan beliau mengajak serta para sahabat dan istri-istri beliau.

Saya pribadi pernah menanyakan kepada salah seorang Guru mengenai hal ini. Saya pribadi tidak merasa selesai hanya dengan jawaban yang disampaikan oleh guru-guru umumnya. (Dan saya senantiasa memohon ampunan Allah atas kesombongan pikiran saya). Ada satu jawaban yang menakjubkan, yang hingga kini masih terus terngiang ketika saya membicarakan mengenai malam Lailatul Qodar. Bahwa Allah akan memberikan ridhoNya kepada hamba yang bersungguh-sungguh menjalankan kebaikan dan ikhlas akan perbuatannya. Bahwa perbuatan itu tidak lantas hanya terjadi pada malam-malam ganjil di sepertiga akhir bulan Ramadhan. (Mungkin) Legitimasinya akan disampaikan pada malam yang ditunjuk, tapi amalan yang mendapat ridho Allah bukanlah hanya pada malam-malam itu. Maka sesungguhnya, seluruh amalan kita terlebih di bulan Ramadhan yang kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan mengharapkan hanya ridho Allah sebagai balasan, bisa menjadi tiket kita mendapatkan keistimewaan Lailatul Qodar. (Ya Allah, semoga hamba termasuk golongan orang-orang yang Engkau ridhoi)

Seseorang yang dengan sengaja menyingkirkan bambu penghalang di tengah jalan, dengan harapan agar orang lain terhindar dari musibah sekaligus memudahkan perjalanannya. Jika hal tersebut adalah hal yang disukai oleh Allah, kemudian Allah ridho. Maka hal itu bisa menjadi amalannya untuk mendapatkan keistimewaan malam Lailatul Qodar. Dan hingga malam itu tiba, maka ia akan dibangunkan dari tidurnya dikuatkan niatnya untuk menjalankan sholat, menghidupkan malam dengan ibadah lainnya dan hatinya dipenuhi senantiasa oleh kebesaran Allah SWT. 

Semua adalah kehendak Allah, dan cukuplah ridho Allah saja yang menjadi pengharapan di setiap perjalanan.

Wallahualam bi showab

Leave a comment

Filed under catatan tentang pribadi

Catatan Ramadhan 1435 – 1436 H

#1

Dalam panggung diorama bisu dunia
aku layaknya badut di tengah drama satir perebutan
tahta kemunafikan
Akulah raja diraja tanpa jubah
yang ditertawakan dan dicemooh dalam ramai
tapi hanya kepura-puraan yang kuhayati

Bagi yang pernah merasa bodoh, tentu akan nyata jalan terang baginya
namun bagi si tinggi hati sepertiku,
pantat pun masih lebih suci dari wajahku

sungguh kini aku mengaku nir-keakuan di hadapanMu
aku sungguh berani jujur jika hanya kita berdua
sendiri-sendirian di tengah gelap, di pinggiran sedu sedan

Sedang di tengah mereka, manusia-manusiamu
topeng kukenakan kembali
peran-peran kuhayati lagi, Atas nama ego

Ego keakuan yang semalaman kuhancur-leburkan
ketika aku mengiba kepadaMu untuk cinta

kutegakkan kutinggikan hormat atasnya ketika pagi datang dan para pendakimu mendekat mengerumuniku

Aku tahu benar,
hanya yang masih tertutup pesona dunia saja yang akan lalai dan menyanjungku
Sementara mereka yang telah menyatu dengan terjal bukitMu, tak akan mempedulikan

Kuatkan pikiranku!
Agar mampu sejujur jika hanya kita berdua
Tegakkan keyakinanku, agar tak leleh oleh ketakutan yang kupikir sendiri.

Aku mendekat kembali padaMu, malam ini
menghitung langkah yang mungkin masih tersisa.

(1435)

KUTAHU

Kutahu, betapa lemahnya pikiran
Mudah tergoyahkan dengan sedikit tipu daya.
Kutahu, betapa rapuhnya dasar pemikiran.
Jika hanya dari nalar logika, semua bersemayam.

Resapkanlah daya paham sampai ke pusat penghayatanku.
Kutahu, dengan sendiri aku tak mampu menghayatinya.

Lebur luluhkan dengan aliran darahku
Agar bisa terpancar di setiap langkah dan tutur
Aku bosan dengan kepura-puraan

Aku murid tanpa guru yang setia membimbing
karena aku terlalu abu-abu
tak terang, tak juga gelap. Dan kutahu itu!

Aku butuh Engkau, wahai Sang Cahaya!
Sangat butuh Engkau.
MEnggema dari pusat penghayatan ke seluruh badan fana, alam fana.

Engkau yang Terlebur, Melebur dan Dilebur
Tiada daya lain seolah!
Hanya satu Daya Segala.

(1435)

AKU MENDEKAT

Kumohon, sudi kiranya Kau berbelas membiarkanku mendekat.
Memang aku tak seelok yang dulu, Yang seharusnya mendatangiMu.
Lusuh kini, sungguh begini keadaanku.
Jauh kiranya dari gambaran ideal para pecintaMu

Apalah aku, dibandingkan para pengagum setiaMu
Mengukir ketakjuban atas cinta kepadaMu dengan tangan mereka sendiri.
TAk kenal waktu-waktu baik untuk menghampiriMu
Mengobarkan kembali cinta yang paling kuno, yang kekal hingga kini.

Apalah aku, yang hanya mampu mencuri waktu
Mencuri dariMu untuk mendekatiMu
Lalu mencuri lagi, untuk berselingkuh dariMu.

Aku seperti pemuda kasmaran yang menghadiahkan bunga setangkai
Dan sebelumnya kupetik dari kebunMu
Lalu tangkai-tangkai lainnya kusimpan,
untuk kugunakan merayu yang lain.

Kau pasti tersenyum melihat tingkahku.
Dulu tak kusadari penuh, bahwa sebenarnya Kau Sangat Tahu.
Tentang tipu daya rayuanku, juga tentang perselingkuhanku.
Jika kusadari sejak dulu, aku pasti malu.

Aku mendekat lagi,
masih juga mencuri-curi.
Tapi kuraharap dengan penuh usahaku,
tal lagi aku ingin menyelingkuhiMu.

(1435)

SEPERTI(GA) MALAM

Para pejalan akan terlihat sedang mengendap-endap
Sumber-sumber suara yang tak sejati tak akan berani lantang-lantang
Sumber-sumber cahaya yang tak sejati pun memilih samar-samar
Para pencatat lebih aman (hanya) dengan mengira-ngira.

Yang muda bertanya, ini jaman siapa?
Yang tua mendongeng, jaman kami sudah terlampaui.
Semua yang tak sejati makin mengaburkan diri.

Aku sempat melihat pemandangan unik, ketika mereka berkerumun menyanjung dengan puja-puji yang tak sejati

Kepada para pemuka-pemuka yang menampilkan simbol-simbol namun tetap terasa ketidak-sejatiannya
Dan mereka tetap menyanjung dengan puja dan puji.

Aku pun sadar, mereka semua yang berkerumun juga tak sejati
Tak tahu lagi tentang nilai sejati.
Bahkan celakanya lagi. Mereka cenderung tak peduli.

Alam raya seperti mempersingkat waktu dengan menyear rasa melambat kepada jiwa-jiwa yang ada
Singkat saja
Namun terasa lama.

“Seperti(ga) malam”, kataku (gumamku).

(1435 – 1436)

Leave a comment

Filed under catatan tentang pribadi, catatan tentang puisi

Catatan tentang Manusia dan Waktu Subuh (bagian 2)

Berpanjang lebar, kita bicara mengenai surat An-Nas. Dan baru hari ini kelanjutan dari tulisan tersebut bisa diunggah. Beribu maaf penulis haturkan kepada semua pihak, terutama guru-guru yang telah mengajarkan kepada penulis banyak pemahaman namun masih sering penulis kecewakan. Termasuk atas keterlambatan ini.

Bagian yang kedua dari tulisan ini tak lain adalah pembahasan mengenai Surat Al-Falaq. Surat yang terletak di juz akhir dalam susunan mushaf Al-Qur’an ini mengisyaratkan satu arti yang juga dijadikan judul untuk tulisan ini, yaitu Waktu Subuh. Banyak pertanyaan dalam diri penulis sebelum mendapatkan pemahaman dari penjelasan mengenai kandungan makna surat ini, dan sebagian besar adalah pertanyaan mengenai alasan keistimewaan waktu subuh sebagai tema dari surat ini.

falaq

Sebagaimana dalam surat An-Nas, surat kedua ini pun dibuka dengan sebuah pernyataan. Bahkan lebih tepatnya sebuah perintah untuk mengungkapkan secara terang-terangan. “Qul” firman Allah, yang mengisyaratkan perintah untuk mengungkapkannya dengan terang-terangan. Menjelaskan dengan penuh keyakinan, “audzu bi robbil Falaq“. Aku berlindung kepada Tuhan yang menciptakan (robbi). Selanjutnya secara khusus dijelaskan mengenai objek ciptaanNya, yaitu “Falaq“. Dalam pengertian terjemahan Al-Qur’an sering kita mendapati arti kata tersebut sebagai waktu subuh. Sementara secara terpisah, falaq diartikan sebagai ‘patahan’. Atau lebih luasnya diartikan patahan waktu antara gelap dan terang. Momentum ketika kegelapan berubah menjadi terang.

Di ayat berikutnya dijelaskan, min syarri ma kholaq. Dalam banyak terjemahan, diartikan sebagai bentuk perlindungan (ayat 1) yang diharapkan. Yaitu, dari kejahatan (min syarri) yang diciptakan (ma kholaq). Dan kejahatan tersebut terjadi pada masa yang tertentu, al-falaq.

Ayat selanjutnya berbunyi, wa min syarri wasiqin idza waqob. Yang artinya, dan dari kejahatan (wa min syarri) waktu malam apabila telah tertutup dan buram (wasiqin idza waqob). Pada ayat ini seolah menegaskan, kejahatan juga terjadi pada malam hari selain pada waktu perpindahan gelap ke terang. Dan penjelasan mengenai wasiqin idza waqob, merupakan waktu paling senyap dari malam ketika semua hal sudah tertutup dan buram. Banyak pendapat menyebutkan sebagai sepertiga terakhir malam, ketika sebagian besar dari kita sudah sangat mengantuk bahkan terlelap.

Kemudian dilanjutkan dengan, wa min syarrin naffasatifil ‘uqod. Selain waktu-waktu kritis terjadinya kejahatan, bentuk kejahatan juga dimintakan permohonan perlindungan. Dan juga dari kejahatan (wa min syarrin) para perempuan penyihir / tukang tenung yang meniup pada buhul-buhul (naffasatifil ‘uqod). Mengenai simbolisme buhul atau ikatan pada tali, dan simbolisme perempuan dalam pengartian penyihir ini banyak pendapat dari para ulama yang secara esensi mengarah pada kegiatan tenung yang dilakukan oleh para penyihir.

Dan ayat yang terakhir, wa min syarri hasidin idza hasad. Perlindungan dari kejahatan (wa min syarri) orang yang dengki (hasidin) ketika ia menghasut (idza hasad). Secara redaksional sepertinya ayat ini cukup remeh, namun di sini terkandung muatan filosofis yang cukup berarti. Allah menjelaskan, bukan orangnya yang harus kita waspadai melainkan tindakannya. Allah menggunakan redaksi “kejahatan orang yang dengki, ketika ia menghasut”, menyatakan dengan jelas bahwa kejahatan yang dilakukanlah yang harus kita waspadai. Bukan orang yang bersifat dengkit tersebut.

Secara singkat ini yang bisa penulis sampaikan kembali dari beberapa penjelasan guru-guru ngaji. Semoga apa yang tertulis bisa memberikan manfaat bagi yang membaca. Semua yang benar hanya milik Allah, setiap kesalahan murni karena kecerobohan dan kebodohan penulis.

Leave a comment

Filed under catatan tentang pribadi

Catatan tentang Manusia dan waktu Subuh (bagian 1)

Pemilihan judul “Catatan tentang Manusia dan waktu Subuh” awalnya hanya sebuah kalimat pembuka dari tulisan yang akan dibahas ini. Tapi ternyata, kalimat itu pula yang sekiranya pantas menjadi judul untuk pembahasan ini. Dalam judul tersebut terdapat dua kata kunci, yang pertama adalah Manusia sebagai perwakilan dari penjelasan surat An-Nas yang juga berarti Manusia. Dan yang kedua adalah waktu Subuh yang juga mewakili salah satu surat dalam Al-Qur’an yaitu Al-Falaq. Kedua surat ini menurut salah satu tafsir, turun secara bersamaan dan turunnya pada malam hari. Ada banyak cerita mengenai turunnya kedua surat ini, salah satunya menyebutkan bahwa sebelumnya Nabi Muhammad sempat diganggu oleh tenung dan ancaman lain hingga Allah menurunkan kedua surat ini. Sampai saat ini pun kedua surat ini juga diyakini sebagai surat yang memiliki ‘kekuatan’ perlindungan dari Allah dari sakit dan gangguan syetan berupa tenung dan semacamnya. Bahkan konon, Fatimah Az Zahra binti Rosulullah ketika sakit panas dibacakan oleh Rosul kedua surat ini.

An-Nas dan Al-Falaq, dalam salah satu riwayat disebutkan memiliki beberapa faedah. Salah satu diantaranya adalah amalannya setara dengan mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari. Rosulullah sendiri pernah menanyakan kepada para sahabat mengenai hal ini. “Siapa yang pernah mengkhatamkan Al-Qur’an dalam sehari? atau berpuasa selama 1000 hari? Atau sholat malam sepanjang 1000 malam?” tidak ada satupun sahabat yang menjawab kecuali Abu Bakar. Dan dijelaskan setelahnya, bahwa Abu Bakar membaca kedua surat ini, yang amalannya seperti yang disebutkan sebelumnya.

Surat An-Nas

Dalam Surat An-Nas atau surat yang susunannya berada pada paling akhir dalam mushaf Al-Qur’an, menjelaskan tentang 2 hal penting. Yang pertama adalah mengenai “Kedudukan Allah” dan yang kedua adalah mengenai “Kedudukan Iblis”.

Surah-An-Nas-English-Translation

Pada ayat yang pertama, disebutkan : “Qul a’udzu birobbinnas” terdapat kata Robbi yang berarti pencipta. Sebuah ungkapan pasrah dari ayat tersebut, menyeru kepada setiap kita untuk menyebut (Qul), bahwasannya kita berlindung (a’udzu) hanya kepada Allah sebagai Tuhan Penciptanya manusia (birobbinnas).

Ayat kedua menyebutkan, “Malikinnas” singkat saja. Kata Maliki di sini tidak memiliki fathah panjang pada huruf mim, yang berarti berbeda dengan maaliki pada surat Al-Fatihah. Seperti yang pernah penulis sampaikan pada tulisan mengenai Al-Fatihah, perbedaan bacaan pada kata maliki di Surat An-Nas dan maaliki di surat Al-Fatihah terletak pada kedudukan Allah dan sifat Allah. Maliki pada surat ini menjelaskan sifat Allah sebagai pemelihara atau pengatur. Dalam bahasa professional kita sering menyebutnya sebagai manager. Berbeda dengan surat Al-Fatihah yang menjelaskan sifat Allah sebagai pengatur/pemelihara sekaligus sebagai pemilik.

Sedangkan di ayat yang ketiga menyebut, “Ilaahinnas” dengan kata kunci ilaahi yang menunjuk pada sifat Allah sebagai satu-satunya yang pantas disembah. Betapa luar biasa penjelasan mengenai kedudukan Allah dalam surat An-Nas ini, dengan satu perintah kerja kepada setiap kita untuk berlindung. Dijelaskan pula kepada siapa kita berlindung, yaitu hanya kepada Allah yang bertindak sebagai Pencipta, Pengatur sekaligus Sesembahan manusia. Bukankah cukup hujjah tersebut untuk kita menyandarkan segala sesuatu, urusan dunia dan akhirat, urusan besar dan kecil, urusan pribadi dan golongan atau bahkan urusan Negara dan bangsa, hanya kepada Allah saja. Dalam ayat ini tersirat penjelasan, bukankah hanya Allah yang menciptakanmu, Allah juga yang memeliharamu dan Allah juga yang pantas untuk disembah. Lantas mengapa harus mencari perlindungan lain selain kepada Allah. Hakekat ilmu hanya milik Allah semata, semoga berkenan tercurah kepada setiap hamba.

Untuk meminta perlindungan hanya kepada Allah, sepertinya hanya urusan yang sepele. Namun cukup banyak hal-hal kecil yang terabaikan ketika kita menjalani kehidupan. Seringkali kita berharap banyak, bersandar terlalu kuat kepada makhluk, dan bukan kepada Allah. Untuk urusan nilai di sekolah, kita berharap agar guru-guru kita memberikan nilai yang terbaik. Untuk urusan pendapatan, seringkali kita menyandarkan harapan kepada pimpinan kita atau pelanggan kita agar keuntungan bisa kita dapat. Untuk urusan sakit pun, seringkali kita menyandarkan harapan kepada tindakan medis para dokter atau praktisi medis lainnya. Pada saat yang sama kita lupa, bahwa setiap tangan yang menggerakkan segala hal dan setiap perbuatan yang dilakukan oleh siapapun, hanya Allah yang ada di balik setiap skenario. Alangkah pantasnya jika kita mendahulukan urusan penyandaran dan pengharapan ini kepada Allah, sebelum memulai setiap tindakan yang diharapkan mampu mendekatkan kita kepada tujuan kita.

Allah adalah satu-satunya yang mula dan sepantasnya kita letakkan di awal setiap tindakan kita. Itu pula esensi dari bacaan basmallah, Bismillahirrohmanirrohim. Hanya dengan menyebut nama Allah, berarti juga menunjukkan sikap pasrah dan hakekatnya kita menyadari alangkah kerdilnya diri kita tanpa bantuan dan campur tangan Allah dalam setiap laku kehidupan kita.

Ayat yang keempat, “min syarril waswasil khonnas”. Ayat tersebut menjelaskan mengenai obyek perlindungan yang kita mohonkan kepada Allah. Dalam kata waswasil diartikan sebagai bisikan yang mengajak kepada kejahatan. Inilah godaan yang pertama, yaitu mengenai bisikan-bisikan yang ada dalam diri. Bisikan ini tidak selalu berarti tentang ajakan untuk kejahatan, bahkan bisikan untuk meragukan tindakan baik atau niat baik yang akan kita kerjakan juga termasuk yang tercantum dalam kata waswasil tersebut. Bukankah keragu-raguan untuk melakukan tindakan baik juga termasuk menghalangi langkah kita dalam beramal baik? Dan untuk itulah tujuan utama syetan. Agar kita tidak lagi melakukan amal yang baik bagi diri kita dan masyarakat kita. Amal yang diterima Allah dengan segenap keridhoan itulah yang dihalangi. Selanjutnya pada kata khonnas, menjelaskan sifat dari bisikan-bisikan tersebut. Kata khonnas berarti tersembunyi dari manusia itu sendiri. Bisikan-bisikan tersebut bahkan tidak disadari oleh manusianya, sebab bisikan tersebut amatlah halus sifatnya. Pada sumber yang lain (hadist) juga dijelaskan betapa halusnya syetan membujuk manusia, hingga ada dalam sela-sela rongga tubuh kita, pada aliran darah kita. Sehingga, tidaklah mengherankan jika bisikan syetan juga teramat halus bagi kita untuk merasakan kecuali bagi mereka yang di hari-harinya senantiasa dekat dengan Allah.

Ayat kelima, “al ladzi yu was wisu fi shudurrinnas” yang secara lengkap diartikan sebagai “yang membisikkan ke dalam dada manusia”. Dalam ayat ini disebutkan kata fi shudur, yang secara harfiah diterjemahkan sebagai “ke dalam dada”. Sedangkan hakekatnya, kata shudur sendiri merupakan bentuk lain dari kata hati, sebagaimana kata qolb dan nafs. Meski secara umum berarti hati, namun masing-masing memiliki penjelasan yang berbeda. Berbeda dengan nafs yang merupakan penjelasan hati yang secara emosional mendasari tingkah laku kita, ataupun qolb yang berarti hati yang senantiasa terbolak-balik. Dalam konteks ini, shudur adalah penjelasan bagi hati yang netral. Hati manusia yang tidak tergoda dan masih bersikap secara naluriah, berbuat baik dan menjaga keseimbangan (mizan). Dan pada bagian hati inilah bisikan-bisikan (waswisu) bekerja secara optimal. Secara psikologis, kita akan mempelajari bagaimana impuls tindakan kita didasari oleh emosional (hati) yang membenarkan setiap niatan kita untuk dijelaskan oleh otak sebagai motor dari setiap gerak kita. Tingkah laku kita yang digerakkan oleh otak, hanya bisa dibelokkan atau bahkan dibatalkan atas kehendak hati. Dan di sinilah peran kerja syetan. Untuk mengurungkan setiap niat baik, atau bahkan menyusupinya dengan niat buruk. Agar nantinya otak kita membenarkan kehendak hati dan memerintahkan tubuh kita untuk bergerak sebagaimana yang dibisikkan.

Alangkah rapuhnya seorang manusia, sementara ia tidak mampu mengontrol setiap detiknya kehendak hati. Jika tidak kita bersandar kepada Allah, tak akan ada kekuatan kita untuk menolak setiap bisikan yang memperdaya kita. Dan pada kenyataannya tak kurang manusia yang pintar berdalih untuk membenarkan setiap kesalahan yang dilakukannya. Karena memang otak bisa dibisiki oleh kehendak hati, sehingga otak akan mencari pembenaran dan membenarkan setiap tindakannya.

Ayat keenam, “minal jinnati wannas” menjelaskan perantaraan bisikan-bisikan tersebut. Keterangan penjelas mengenai siapa saja yang akan berperan dalam memperdaya kita. Bisikan tersebut tidak secara internal kita dapatkan dalam system tubuh kita, melainkan faktor external yang berperan penting juga terhadap munculnya bisikan-bisikan dalam hati (waswisu fi shudur) tersebut. Dalam ayat keenam tersebut dijelaskan sumber-sumber yang memungkinkan, yaitu dari golongan jin (minal jinnati) dan dari golongan manusia (wannas). Dan memang tidak diragukan lagi, banyak godaan yang justru muncul dari teman, saudara, kerabat bahkan keluarga dekat yang juga dari golongan manusia (wannas).

………….

(to be continued)

Leave a comment

Filed under catatan tentang pribadi